Senin, 22 Juni 2009

MENYIKAPI SERANGAN ISRAEL TERHADAP PALESTINA HINGGA SEKARANG KONFLIK MASIH BERLANJUT.

Pada tanggal 1 Januari 2009 ini serangan rezim zionis Israel ke Gaza atas bangsa Palestina sudah berlangsung 5 hari (27 Desember 2008). Ratusan orang sipil Palestina tewas menggenaskan, sedangkan ratusan lainnya luka-luka. Kutukan atas serangan tersebut berdatangan dari berbagai negara, namun sayangnya Amerika Serikat ternyata mem-veto resolusi PBB atas serangan Israel ke Gaza tersebut. Konflik Palestina – Israel menurut sejarah sudah 31 tahun ketika pada tahun 1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria dan berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria),Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania).. Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidak sepakatan tentang masa depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri.
Hingga saat ini serangan Israel ke Jalur Gaza belum memperlihatkan tanda-tanda mereda. Bahkan, eskalasi serangan semakin meningkat. Hingga hari ke-8, Minggu, 4 Januari 2009 serangan Israel telah menewaskan sekurangnya 436 warga dan 3000 an luka2. Walaupun agresi ini menimbulkan berbagai kecaman dunia terhadap serangan Israel, namun Israel tetap bersi keras melakukan agresi militernya terhadap Palestina.
Bagi Israel, yang memulai aksi ini, tujuan serangan mereka paling tidak seperti yang diumumkan secara resmi oleh para petinggi negara Yahudi itu adalah untuk menghentikan serangan-serangan roket militan Palestina ke negeri itu. Setelah sepekan bombardir Israel,
Kalau kita merujuk pada komentar-komentar yang dikeluarkan pejabat Israel, mereka mengatakan bahwa misi mereka meredam serangan roket itu telah berhasil. Menurut mereka kemampuan Hamas untuk melancarkan serangan roket telah menurun drastis setelah infrastruktur Hamas telah dilumpuhkan.
Memang benar infrastruktur Hamas telah banyak yang hancur, tapi apakah kehancuran infrastruktur itu secara otomatis menghancurkan kemampuan Hamas atau militan Palestina lainnya untuk melancarkan roket sangatlah diragukan. Hamas hingga saat ini masih memiliki ribuan roket -- ini juga diakui oleh para petinggi militer dan intelijen Israel.
Sebenarnya Invasi Israel ini bisa dihentikan bila yang menekan itu semata-mata adalah Amerika Serikat. Kalau AS tidak melakukan penekanan terhadap Israel, maka dia akan berkelanjutan. Jadi, Invasi Israel dipilih karena ada masa transisi dari Bush ke Obama. Bush juga tidak bisa banyak berbuat lagi karena Pemerintahan Amerika telah berpindah alih ke Obama. Obama sendiri tidak bisa serta merta langsung bersuara karena dia secara formal belum dilantik, belum dikukuhkan sebagai Presiden. Tapi memang kita berharap kepada kepemimpinan Obama yanag lebih mengerti mengenai konstelasi politik di Timur Tengah, karena konflik ini sudah puluhan tahun. Jadi, mesti diketahui akar permasalahan ini dari awal. Uni Eropa juga tidak akan bisa banyak diharapkan kecuali mereka membantu secara kemanusiaan.
Politik luar negeri Negara Amerika sangat berpihak kepada Israel. Sementara Bush pernah berikan janji pada masa pemerintahannya kedua bahwa akan membantu memberikan kemerdekaan kepada Palestina. Tapi itu ternyata tidak terjadi. Sehingga ada semacam ketidakberdayaan dunia internasional bahwa inisiatif AS itu tidak maksimal. Agresi Israel ini juga tidak dapat banyak dihentikan kalau AS belum mampu diyakinkan bahwa agresi sudah di luar batas kemanusiaan dan sudah melanggar konvensi Geneva. PBB juga sulit diharapkan. Selama struktur pengambil keputusan seperti sekarang - dengan adanya hak veto dari salah satu Negara - akan sulit.
Selain itu dalam kasus Palestina, AS menggunakan standar ganda sehingga Persoalannya menjadi semakin sulit karena AS menganggap HAMAS sebagai kelompok teroris, oleh karena itu Hamas yang harus menahan diri. Jadi ini merupakan dua pandangan yang sulit bertemu. Padahal kita tahu Hamas itu menang pada Pemilu di sana. Pemilu itu justru didorong oleh AS. Pemilu yang diselenggaarakan itu dimenangkan oleh Hamas, sementara AS lebih pro kepada Fatah dibawah kepemimpinan Mahmoud Hamzah.
PBB dianggap mengalami kegagalan dalam upaya penghentian agresi militer Israel ke Palestina. Salah satu cara yang dilakukan adalah mendorong melakukan Sidang Umum MU-PBB MU diundang, semua Negara anggota PMB hadir disana. Tapi itu lebih merupakan sanksi moral kepada Israel dan dukungan moral kepada Palestina. Tapi serangan tidak bisa dihentikan bila AS tidak menekan Israel. Persoalannya juga Negara Arab tidak cukup solid membantu perjuangan Palestina. Kalau mereka mau membantu maka jangan tanggung-tanggung. Bukan hanya sukarelawan, tetapi juga kirim senjata. Karena diplomasi tidak bisa menyelesaikan persoalan dan sudah dianggap gagal.
Negara-negara arab di timur tengah seharusnya memainkan peran yang lebih besar. Karena mereka memiliki kekuatan ekonomi untuk mampu memainkan peran yang jauh lebih besar. Dan sudah menjadi rahasia umum kalau ekonomi AS juga ditopang oleh kekayaan negara-negara Arab super-kaya tersebut. Artinya, jika mereka mau memainkan peran, mereka bisa melakukan lobby tingkat tinggi dengan AS untuk berperan memecahkan persoalan ini. Bukan nya dengan terjadinya konflik di gaza, mereka malah memanfaatkan keadaan dan mendapatkan keuntungan ekonomi dari konflik ini.karena ada kemungkinan harga minyak akan naik lagi. dan mereka memiliki peran signifikan karena mereka merupakan negara sekawasan, sesama negara Islam, apalagi atas nama kemanusiaan.namun mereka malah tidak memainkan peran signifikan tersebut dalam bentuk apapun.
Indonesia dalam perannya melalui Pernyataan Pres. SBY yg meminta DK-PBB memberikan sanksi keras kepada Israel memang sudah sangat tepat. Dan itu sudah dilakukan juga oleh Dubes kita di PBB, Marti Natalegawa. Optimalisasinya itu tentu pernyataan yang keras. Dan yang lebih penting adalah melakukan multitrack diplomacy. Artinya, melakukan pendekatan dalam segala lini untuk membujuk supaya DK PBB memberikan sanksi, melobi AS. Tapi juga harus melobi pemerintah Arab Saudi, Mesir dan Yordania. Karena Mesir dan Yordania yang punya pakta perdamaian dengan Israel, Agar mereka bisa "membujuk" Israel agar jangan berlebihan dalam bertindak.
Harusnya kita memiliki konstitusi untuk mendukung Palestina merdeka. Karena itu, siapapun pemerintah harus tetap mendukung Palestina. Yang kita perlukan adalah di dalam urusan solidaritas untuk Palestina ini, pemerintah, rakyat, DPR harus kompak. Kita setuju dengan Palestina, hanya kita harus proporsional. Seandainya kita mau mengirimkan sukarelawan harusnya kita mesti melihat bahwa sukarelawan itu harus terampil. Jika tidak maka akan menimbulkan beban saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar